Abah KH Junaidi Al Baghdady

Abah Junaidy

KH Junaidi Al Baghdady

CINTA dlm bhs arab di sebut al-hub atau mahabbah yg brasal dari kalimat habba-hubban-hibban, yg brarti waddahu, yg punya makna kasih atau mengasihi. cinta di namakan mahabbah karna ia adalah kepedulian yg paling besar dari cita hati.

CINTA sering kali membuat pecinta tdk mengetahui bahkan menutupi kekurangan yg di cintainya. cintalah yg membuat orang mengatakan batu sebagai permata, orang nista menjadi mulya, dan budak menjadi raja.

Syeh JalaluddinRumi mengatakan dlm syairnya :

suatu malam kutanya cinta : “katakan, siapa sesungguhnya dirimu?”
katanya : “Aku ini kehidupan abadi, aku memperbanyak kehidupan indah itu.”
kataku : “duhai yg di luar tempat, dimanakah rumahmu?”
katanya : “aku ini bersama api hati, dan di luar mata yg basah.
aku ini tukang cat, karna akulah setiap pipi berubah menjadi kuning.
akulah utusan yg ringan kaki,
sedangkan pecinta adalah kudu kurusku.
akulah manisnya meratap,
penyibak segala yg tertabiri…”
lewat cintalah semua yg pahit akan jadi manis.
lewat cintalah semua tembaga akan jadi emas.
lewat cintalah semua yg endapan akan jadi anggur murni.
lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat.
lewat cintalah simati akan jadi hidup.
lewat cintalah raja jadi budak.

Rabi’ah berkata :
“sukar menjelaskan apa hakikat cinta itu. ia hanya memperlihatkan kerinduan gambaran perasaan. hanya orang yg merasakanya yg dapat mengetahui. bagaimana mungkin kau dapat menggambarkan sesuatu yg kau sendiri bagai telah hilang dari hadapan-Nya, walaupun wujudmu masih ada oleh karena hatimu yg gembira telah membuatmu bungkam.”

PURBALINGGA KOTA YANG BERKEMBANG PESAT

Di Kabupaten Purbalingga terdapat
puluhan industri rambut palsu dalam
skala besar maupun kecil dan 18
diantaranya merupakan penanaman
modal asing (PMA) dengan investor dari
China dan Korea Selatan.
Pada 2008-2009, ekspor rambut palsu
dari Purbalingga sempat mengalami
penurunan hingga 25 persen akibat
pengaruh krisis finansial di Amerika
Serikat.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian
Perdagangan dan Koperasi
(Disperindagkop) Purbalingga, total nilai
ekspor dari kabupaten ini ke Amerika
Serikat dalam kondisi normal sekitar
Rp3,841 miliar per bulan, berupa rambut
palsu, bulu mata, dan manequin
sebanyak 919.404 set.

Perkembangan tsb membuat purbalingga semakin maju pesat dalam hal pembangunan di dukung juga oleh kepemimpinan bupti purblingga yg selalu mementingkan pembangunan untuk kabupaten tersebut.
kita harus bangga menjadi warga purbalingga..
masalah pegawean nggo wong wadon rasah kwatir, daripada meng jakarta adoh2 gaji 500 ya mending ngidep dengan gaji berkisar antara 800~900rb perbulan(tanpa lembur)
sarana pasar baru yg luas dan stadion baru yg megah makin melengkpi fasilitas warga purbalingga, tapi kurang siji, urung ana dalan tol.. hwhwhw

MAJULAH PURBLINGGA..

TENTANG ABAH ANOM

Almas Ibnu Qosim
Mursyid Kammil Mukammil Thoriqoh
Naqsyabandi Al-Haqqani, As-Sayyid
Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh
Mohammad Nazim Adil al-Haqqani dan
kholifahnya Syekh Hisyam Al-Kabbani
berkunjung ke As-Sayyid Al-‘Alamah
Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul
wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom ) sebagai
Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan
Naqsyabandiyyah yang berada di
Pondok Pesantren Suryalaya
Tasikmalaya, Jawa Barat Indonesia
Pagi hari setelah Salat Subuh di hotel,
rombongan berangkat menuju Pesantren
Suryalaya di Tasikmalaya. Di sana
Mawlana Syekh Nazim QS, Syekh
Hisyam QS dan rombongan menemui
K.H. Shohibul Wafa Tajul Arifin yang lebih
dikenal dengan Abah Anom, Mursyid
Tarekat Qadiriah wa Naqsybandiyyah.
Mawlana Syekh Nazim QS yang berusia
10 tahun lebih muda memasuki
kediaman Abah Anom dan mencium
tangan beliau.
Abah
Anom berada dalam kondisi yang tidak
bisa menggerakkan seluruh bagian
tubuhnya, bahkan untuk tersenyum pun
beliau sulit sekali, namun Mawlana
mengatakan, “Jangan kalian pikir bahwa
Tajul Arifin sedang tidur, beliau
mengirimkan ke dalam hati saya, apa
yang beliau ingin sampaikan kepada
kalian.” Beliau lalu melanjutkan bahwa
Abah Anom merupakan salah seorang
pembawa Cahaya Muhammad SAW.
Seluruh ruangan menjadi terharu. Banyak
yang menangis karena bahagia. Setelah
itu, Abah Anom memberi isyarat bahwa
beliau akan berdoa—suatu kejadian yang
sangat langka—dan ini menambah
suasana menjadi lebih haru, karena
untuk pertama kalinya mereka dapat
mendengar suara Abah Anom. Beliau
adalah seorang Syekh besar, yang
muridnya tidak hanya berasal dari
Indonesia, tetapi juga dari Malaysia,
Singapura dan lain-lain.
“Banyak para alim ulama dan para
cendikiawan muslim memberikan
pengetahuan agama kepada umat,
pengetahuan itu bagaikan lilin-lilin,
apalah artinya lilin-lilin yang banyak
meskipun lilin-lilin itu sebesar pohon
kelapa kalau lilin-lilin itu tidak bercahaya.
Dan cahaya itu salah satunya berada
dalam kalbunya beliau ( Syekh Ahmad
Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin).
Saya tidak tahu apakah Nur Illahi yang
dibawanya akan putus sampai pada
beliau saja, atau masih akan berlanjut
pada orang lain. Tapi saya yakin dan
berharap, sesudah beliau nanti masih
akan ada orang lain yang menjadi
pembawa Nur Illahi itu.Siapakah
orangnya, saya tidak tahu.
Maka Anda sekalian para hadirin,
ambillah Nur Illahi itu dari beliau saat ini.
Mumpung beliau masih ada, mumpung
beliau masih hadir di tengah kita,
sulutkan Nur Illahi dari kalbu beliau
kepada kalbu anda masing-masing.
Sekali lagi, dapatkanlah Nur Ilahi dari
orang-orang seperti Syekh Ahmad
Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.
Dari kalbu beliau terpancar pesan-pesan
kepada kalbu saya. Saya berbicara dan
menyampaikan semua pesan ini bukan
dari isi kalbu saya sendiri. Saya
mengambilnya dari kalbu beliau. Di
hadapan beliau saya terlalu malu untuk
tidak mengambil apa yang ada pada
kalbu beliau. Saya malu untuk berbicara
hanya dengan apa yang ada pada kalbu
saya sendiri.”
Pidato Syekh Nazim diatas juga pernah
dimuat di Majalah Sufi “Lilin-lilin tapi
tidak bercahaya”
Syekh Nazim adil al-Haqqani berpamitan
kepada Syeikh Ahmad Shohibulwafa
Tajul ‘Arifin (Abah Anom) untuk kembali
ke Jakarta
Dan dibawah ini pidato yang
diterjemahkan oleh KH.Wahfiudin yang
telah mendampingi Syekh Nazim
Haqqoni dan Syekh Ahmad Shohibul
Wafa Tajul ‘Arifin ( Abah Anom )
disuryalaya.

HUKUM MENGI’TIQODKAN ALLAH SWT SEPERTI MAHLUQ

Artinya: “Dan ketahuilah oleh kalian bahwa
sesungguhnya:
=====
1. Barangsiapa mengi’tiqadkan
(meyakinkan) bahwa Allah swt seperti
jisim (bentuk suatu makhluk) sebagimana
jisim-jisim lainnya, maka orang tersebut
hukumnya “Kafir (orang yang kufur dalam
i’tiqad, bukan berarti keluar dari Islam
pindah ke agama lain).”
2. Orang yang mengi’tiqadkan
(meyakinkan) bahwa Allah swt seperti
jisim (bentuk suatu makhluk), tapi tidak
disamakan sebagaimana jisim-jisim
(bentuk-bentuk makhluk) lainnya, maka
orang tersebut hukumnya “‘Aashin” atau
orang yang telah berbuat durhaka kepada
Allah swt, dan bukanlah orang “kafir
(orang yang kufur dalam i’tiqad).”
3. I’tiqad yang benar adalah i’tiqad yang
menyatakan bahwa sesungguhnya Allah
swt itu bukanlah seperti jisim (bentuk
suatu makhluk) dan bukan pula berupa
sifat. Tidak ada yang dapat mengetahui
Dzat Allah swt kecuali Dia.”
Dengan demikian, berdasarkan
keterangan tentang ilmu tauhid di kitab
“Hasiyah ad-Dasuqi ‘ala Ummil Barahin”
tersebut di atas, ucapan yang dikeluarkan
oleh seseorang dalam kaitannya dengan
ilmu tauhid, tergantung dari i’tiqadnya,
apakah ucapannya itu di’itiqadkan atau
tidak.
Oleh karenanya kita jangan sembarangan
menghukumi orang dengan hukuman
murtad, kafir, dan sejenisnya sebelum kita
menguasai permasalahan hukum tersebut
sesuai dengan apa yang dipermasalahkan.
Hal itu dilarang keras dalam ajaran
Islam.